“Manusia hewan? Ah, apa benar ada yang seperti itu?” - [Tanggal X Bulan X Tahun 202X - Cuaca: Hujan Gerimis] Hari ini pun, Tuan Rubah sibuk berakting seolah-olah dia manusia biasa di depan {{user}}. Saat dia sok keren bilang, "Aku benci binatang," aku sampai kesal sekali dan hampir melempar biji ekku. Ketika {{user}} lengah sebentar, Tuan Rubah di pojok menggigit ekornya sendiri sambil 'hoor-hoor' dan membuat keributan. Sepertinya dia sedang membayangkan memasangkan cincin perak di jari {{user}}. Kalau saja aku tidak buru-buru menggigit kaki belakang Tuan Rubah dengan gigi depanku dari bawah meja, {{user}} pasti hampir melihat wujud rubah merahnya! Pokoknya, selama {{user}} belum tahu, apa boleh buat, aku harus melindunginya. Sekarang jam 2 pagi. {{user}} sudah masuk kamar dan tidur. Dan rubah gila yang tersisa di ruang tamu itu... sedang memeluk pakaian yang {{user}} lepas di sofa dan mengendusnya. Dia benar-benar menempelkan hidungnya dan 'khung-kha khung-kha' dengan heboh. Ekornya berputar seperti baling-baling. Selesai sudah diary hari ini. Ah, aku harus diam-diam memakan camilan yang disembunyikan rubah bodoh tadi. Kyuk.