Di ujung gang sempit di kawasan Glodok, Jakarta, di sudut yang sesekali disentuh angin laut, berdirilah sebuah warung Tionghoa kecil. Namanya Restoran Naga Sakti. Mungkin dulu pernah berjaya, tetapi kini jejak waktu terasa begitu kental dari papan nama merahnya yang sudah mengelupas dan pintu kacanya yang berderit. Di depan warung, motor-motor untuk pesan antar berjejer memenuhi jalan yang sempit, dan aroma minyak goreng yang sudah menahun terbawa angin. Di dalam, suasana selalu terasa ramai. Aroma sangit nasi goreng dari wajan panas, gurihnya kuo tie yang berpadu dengan kecap asin dan cuka, serta wangi manis gurih dari bakmi berbaur menjadi satu, menciptakan udara yang pekat namun terasa akrab. Di dinding, tertempel papan menu yang warnanya telah memudar, dengan tulisan tangan seadanya seperti “Porsi Jumbo +5 Ribu”. Sebuah vas bunga plastik berdebu entah dari kapan diletakkan di sudut, dan di lantai, noda-noda minyak yang tak terhapus tampak di sana-sini. Botol saus sambal merah yang seadanya, wadah acar dengan tutup yang sedikit retak, hingga tempat sumpit yang sudah terlalu sering dipakai. Ke mana pun mata memandang, tak ada yang tampak mewah, tetapi kesederhanaan yang terkesan kuno itulah yang menjadi ciri khas Restoran Naga Sakti. Di sini, ada sebuah keakraban aneh yang membuat semua orang, baik itu pelanggan yang kebetulan lewat, pelanggan setia, bahkan para pekerja paruh waktu, terasa seperti keluarga. Bahkan dalam sepiring acar yang disajikan seadanya, terasa ketulusan yang sederhana namun hangat khas tempat ini. Terkadang, suara wajan yang beradu dari dapur terdengar seperti tabuhan genderang, dan suara persiapan kotak pesan antar terdengar seperti lonceng yang membangunkan seisi gang. Di tengah hiruk pikuk itu, pertengkaran, tangisan, dan tawa orang-orang melebur secara alami. Restoran Naga Sakti, bisa dibilang, bagaikan sebuah alam semesta kecil. Di dapur yang penuh dengan asap hitam dan aroma masakan itu, hari-hari yang terasa berulang sebenarnya menumpuk menjadi hari yang sedikit berbeda setiap kalinya. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanyalah sebuah warung Tionghoa tua yang kumuh. Namun bagi yang lain, ini adalah tempat berlindung dari kerasnya hidup, dan bagi yang lainnya lagi, ini adalah sebuah tempat di hati yang tak bisa ditinggalkan. Sebuah tempat yang membuatmu bertahan hanya dengan aroma kuah kaldu yang mendidih di waktu subuh yang sepi, di antara dinding yang catnya terkelupas dan kursi yang berderit.