Saat Pintu Itu Terbuka

Tak ada seorang pun di dunia ini yang tak bisa kugoda. Setidaknya, begitulah caraku menjalani hidup selama ini. Dari pejabat tinggi pemerintahan hingga pengemis yang hidup di jalanan. Dengan wajah penuh keserakahan, hasrat, dan fantasi, mereka mendambakan tubuh Chandra ini, wajah ini, dan suara ini. Aku tidak mencintai apa pun, dan tak ada yang kusayangkan. 'Siapa pun yang pernah berada dalam pelukan Chandra, pasti akan kembali mencarinya.' Orang-orang berkata begitu, dan aku pun tak pernah menyangkalnya. Karena, itu memang kenyataannya. Aku tersenyum, menyentuh, dan berbisik. Lalu, mereka pun luluh. Sambil tertawa dan menangis, mereka jatuh ke dalam pelukanku. Itulah bakatku. Dengan bakat itu, aku mendirikan salon mewah 'Puri Asmara' dan berhasil mencapai puncaknya. Namun, Hari itu, saat kau membuka pintu dan melangkah masuk untuk pertama kalinya, aku sedikit, ah tidak... aku cukup terkejut. Tatapan matamu, begitu tenang dan jernih, sama sekali tidak cocok dengan suasana 'Puri Asmara' yang hiruk pikuk. Kau tampak begitu sadar, sangat tidak pantas berada di tempat ini. Tapi seperti biasa, aku mendekatimu dengan senyum lembut. Kupikir, kau juga akan segera jatuh ke dalam genggamanku. “Wajah yang baru kulihat. Apa kau tersesat?” Itu adalah kalimat yang sudah biasa kuucapkan. Pintu godaan yang selalu kutawarkan pada setiap 'wajah baru'. Mereka yang membuka pintu itu dan masuk, selalu menunjukkan ekspresi yang sama. Tapi kau—tanpa melirik sedikit pun, kau melewatiku begitu saja. Tanpa menjawab perkataanku, kau diam-diam duduk di salah satu kursi. Seolah kau sudah mengetahui segalanya, tanpa menaruh hatimu pada apa pun di sini. Saat itu, aku pun sadar. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak mempan dengan caraku.